Seorang teman yang
berulangkali kecewa terhadap pasangannya bercerita bahwa ia mulai merasa putus
asa dalam menanti kehadiran pria yang bisa dipercaya dan setia. "Jujur,
sekarang saya trauma dan sulit untuk bisa percaya." katanya. Berkali-kali
ia dikhianati sehingga ia cenderung menutup diri jika ada pria yang mulai
mendekatinya. "Orang baik itu banyak mas.. tapi yang setia itu langka..
mungkin malah tidak ada lagi." katanya. Apa yang ia katakan mungkin ada
benarnya jika melihat tendensi di jaman modern ini. Lewat berbagai media
hiburan seperti lagu, film dan kejadian sehari-hari kita seolah diajarkan bahwa
ketidaksetiaan adalah sesuatu yang manusiawi dan lumrah. Tidak heran maka
semakin lama semakin sulit saja menemukan sosok manusia yang bisa setia, baik
dalam pekerjaan, pertemanan, organisasi dan tentu saja seperti yang dialami
teman saya, dalam hubungan seperti berpacaran atau pernikahan. termasuk
tentunya pada Tuhan. Ada banyak alasan yang bisa dijadikan dasar untuk
melegalkan ketidaksetiaan itu. Membesar-besarkan kekurangan pasangan,
mencari-cari kejelekan misalnya, sampai kepada menyalahkan pihak ketiga, itu
contoh alasan klasik yang sering dikemukakan. Padahal soal setia atau tidak itu
tergantung pilihan dan keputusan kita sendiri.
Mencari orang baik
mungkin mudah, tapi mencari orang yang setia sama sulitnya dengan mencari jarum
ditumpukan jerami. Seperti itu hari ini, dahulu pun sama. Itu persis seperti
apa yang dikatakan Salomo dalam salah satu Amsalnya. "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang
yang setia, siapakah menemukannya?" (Amsal
20:6). Mengaku teman itu mudah, namun menjadi sahabat yang setia baik dalam
suka maupun duka susahnya minta ampun. Mencari orang yang baik itu jauh lebih
muda ketimbang orang yang setia, bisa dipercaya. Dari masa ke masa kita akan
terus berhadapan dengan masalah ini, bahkan diantara kita sendiri pun mungkin
sulit untuk setia. Padahal seharusnya tidak demikian, karena kesetiaan
merupakan salah satu kualitas utama yang diharapkan ada dalam diri orang
percaya. Lihatlah pesan Paulus kepada Timotius. "...kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih,
kesabaran dan kelembutan." (1 Timotius 6:11). Sementara Salomo
mengingatkan "Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah
kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong." (Amsal
19:22).
Kepada sesamanya
manusia sulit setia, kepada Tuhan demikian. Sementara Tuhan memberikan kasih
setiaNya yang begitu besar, untuk setia sedikit saja kita susah. Banyak alasan
yang bisa kita kemukakan. Mulai dari merasa permintaan tidak didengarkan Tuhan,
tidak kunjung lepas dari kesulitan, uang, jabatan bahkan jodoh. Tidak jarang
kita melihat orang yang rela menyangkal imannya demi keuntungan-keuntungan
pribadi dan sesaat. Tuhan begitu mengasihi kita. Bahkan anakNya yang tunggal
pun rela Dia berikan agar kita semua selamat. Kurang apa lagi? Kehadiran Yesus
di dunia ini untuk menggenapkan kehendak Bapa pun sudah menunjukkan sesuatu
yang seharusnya bisa kita teladani. Yesus membuktikan kesetiaanNya menanggung
segala beban dosa kita sampai mati. Tanpa itu semua mustahil kita bisa
menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat janji keselamatan setelah episode
kehidupan di dunia ini. Kita mengaku sebagai anak Tuhan, tapi kita tidak
kunjung bisa meneladaniNya. Disamping itu sering pula kita terus meminta
perkara besar dalam doa-doa kita, sementara perkara kecil saja kita tidak bisa
menunjukkan kesetiaan dan tanggung jawab. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada
orang setia sesungguhnya jauh lebih besar daripada berkat dalam kehidupan dunia
yang sementara ini. "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan
mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu
2:10c). Ada mahkota kehidupan yang siap dikaruniakan kepada semua orang yang
mau taat dan setia sampai mati.
Dalam perumpamaan
tentang talenta kita bisa melihat bagaimana pandangan Tuhan tentang kesetiaan.
Saat kita diberi perkara kecil, kita harus sanggup mempertanggungjawabkan itu
dan melakukannya dengan baik sebelum menerima perkara yang lebih besar lagi.
Lihat apa kata Tuhan kepada hamba yang mampu setia kepada perkara kecil yang
dipercayakan Tuhan. "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali
perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam
perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang
besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." (Matius
25:21,23). Bagaimana reaksi Tuhan kepada orang yang tidak setia? Apakah Tuhan
harus tetap mempercayakan sesuatu yang lebih besar kepada orang yang tidak
sanggup bertanggungjawab dalam perkara kecil? Tentu tidak. "Campakkanlah
hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah
akan terdapat ratap dan kertak gigi."(ay 30). Itulah yang akan menjadi bagian dari
orang yang tidak setia. Maka benarlah nasihat yang diberikan Lukas. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia
juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam
perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10).
Sejak sekarang,
mulailah setia dari perkara-perkara kecil. Ketika ada sesuatu yang dipercayakan
Tuhan kepada kita, lakukanlah dengan benar dan dengan setia. Lantas
bersyukurlah senantiasa, meski apa yang ada saat ini dipercayakan masih
terlihat seolah kecil. Ingatlah bahwa Tuhan pasti menghargai kesungguhan,
kejujuran dan kesetiaan anda. Pada saatnya nanti, Dia akan mempercayakan
sesuatu yang lebih besar. Menjadi baik saja tidak cukup, kita harus mampu pula
meningkatkan kapasitas diri kita untuk menjadi pribadi yang setia, yang bisa
dipercaya. Untuk menerima janji dan berkat Tuhan dibutuhkan usaha serius dan
perjuangan kita untuk terus setia. Dan semua itu berawal dari hal yang kecil.
Tuhan akan melihat sejauh mana kita bisa dipercaya untuk sesuatu yang lebih
besar lagi. Tidaklah sulit bagi Tuhan untuk memberkati kita, tapi kita dituntut
untuk membuktikan dulu sejauh mana kita mampu setia kepadaNya. Disamping itu,
saya pun percaya bahwa lewat hal-hal yang kecilpun Tuhan mampu memberkati kita
secara luar biasa. Apapun yang ada pada kita saat ini, bersyukurlah untuk itu,
dan lakukan sebaik-baiknya dengan kesetiaan dan kejujuran. Tuhan mampu
memberkati itu menjadi luar biasa, dan mempercayakan kita untuk hal-hal yang
lebih besar lagi pada suatu saat nanti.
Setia dalam perkara kecil
adalah awal dari hadirnya perkara besar

No comments:
Post a Comment